Salim Cherobhotd Bumie 10 Mei 2013
Assalamu'alaikum wr wb.
Saya
mau bertanya ustadz, misalnya pergi keluar kota di tengah perjalan
waktu sholat udah tiba sedangkan pakaian yang saya pakai mutanajjis apa
saya harus sholat meski pakaian saya mutanajjis? monggo di jelaskan
ustadz.
Jawaban:
Waalaikumussalam
Wr Wb. Kepada saudara Salim@ yang dimulyakan Allah. Menanggapi
pertanyaan yang saudara paparkan diatas kami menyimpulkan sebagai
berikut:
(1). Bila seseorang tidak mendapati penutup aurat
maka bershalatlah dengan telanjang dan tidak ada kewajiban mengulangi
shalat baginya. Lain halnya dengan shalatnya orang yang sedang hadats
dan orang yang dalam tubuhnya terkena najis, maka masing-masing darinya
diwajibkan shalat karena untuk menghormati waktu dan wajib mengulangi
shalatnya.
(2). Namun jika pakian yang terkena najis hanya sedikit
seperti halnya darah nyamuk atau terkena mimisan, maka hokum darah yang
demikian tidak termasuk pembahasan diatas dalam kata lain darah
tersebut dimaafkan.
Dasar Pengambilan:
ولو محبوسا في موضع نجس، ومعه ثوب لا يكفي العورة، وستر النجاسة، فقولان. أظهرهما: يبسطه على النجاسة، ويصلي عاريا، ولا إعادة. والثاني: يصلي فيه على النجاسة، ويعيد.(1)* روضة الطالبين.جز 1. ص 393
Dasar Pengambilan:
: ﻓﺎﻗﺪ ﺍﻟﻄﻬﻮﺭﻳﻦ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﻣﺎﺀ ﻭﻻ ﺻﻌﻴﺪﺍ ﻳﺘﻴﻤﻢ ﺑﻪ ، ﻛﺄﻥ ﺣﺒﺲ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﻧﺠﺲ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﻣﺎ ﻳﺘﻴﻤﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺤﺘﺎﺟﺎ ﻟﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﻣﻌﻪ ﻟﻌﻄﺶ ، ﻭﻛﺎﻟﻤﺼﻠﻮﺏ ﻭﺭﺍﻛﺐ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﻻ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﻛﻤﻦ ﻻ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﻟﻤﺮﺽ ﻭﻧﺤﻮﻩ .ﻓﺬﻫﺐ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺻﻼﺓ ﻓﺎﻗﺪ ﺍﻟﻄﻬﻮﺭﻳﻦ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻟﺤﺮﻣﺔ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﻋﻨﻪ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺏ ﺇﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ، ﻭﻻ ﺗﺠﺐ ﺇﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ، ﺃﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﻪ ﺳﺎﻗﻄﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺃﺩﺍﺀ ﻭﻗﻀﺎﺀ. (2)* الموسوعة الفقهية . جز 14. ص 273
Orang
yang tidak mendapati sarana untuk bersuci baik berupa air atau debu
seperti saat ia dipenjara dan tidak mendapati salah satu dari keduanya,
atau ditempat najis yang tidak ia dapatkan debu untuk bersuci sementara
air yang ada dibutuhkan untuk dahaganya orang yang bersamanya, orang
yang sedang disalib atau berada diperahu yang tidak dapat meraih air dan
seperti orang sakit yang tidak mampu menjalani
wudhu atau
tayammum sebab sakit atau semacamnya, maka mayoritas ulama mewajibkan
hukum shalat baginya sekedar penghormatan terhadap waktu, hokum
kewajiban shalat tidak semata-mata gugur baginya namun baginya wajib
mengulangi shalat yang ia kerjakan dalam kondisi demikian menurut
kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, sedang menurut kalangan hanabilah
tidak wajib mengulangi shalatnya.Menurut pendapat yang mu’tamad (dapat
dijadikan pegangan) dikalangan Malikiyyah seseorang yang dalam kondisi
diatas shalatnya gugur dan dalam pendapat lainnya wajib menjalani dan
mengqadhainya.Al-Mausuuah al- Fiqhiyyah 14/273
Dasar Pengambilan:
وَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَوْضِعًا طَاهِرًا وَلَا بِسَاطًا طَاهِرًا صَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ. (3)*
Barangsiapa tidak mendapati tempat yang suci atau tikar yang suci maka shalatlah sekedar menghormati waktu.
Referensi Kitab:
(1)*. Raidhotu Tholibin. Juz 1. Hal 173.
(2)*. Al_Maushu'ah Al_Fiqhiyah. Juz 14. Hal 273.
(3)*. Al_Haawi Al_Kabir. Juz 1. Hal 518.
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
(1). Ustadz Brojol Gemblung (2). UstadzWesqie (3). Ustadz Rampak Naung (4). Ustadz Mazz Rofii (5). Ustadz Sunde Pati
Editor: Guslik An_Namiri.