Pertanyaan Saudara Ediy Irawan@.
Assalamualaikum.
saya mau tanya lagi ne. ada sepasang suami istri. Si suami punya
perkerjaan sendiri. Si istri pun punya pekerjaan sendiri. pertanyaan
saya. gimana hukumnya seorang istri menghabiskan uang sendiri. uang
dkasih ama org tuanya di kasih ama saudaranya tanpa memberi tau kpd
suami. kan uang tersebut hasil tenaga sendiri bukan dikasih oleh suami.
apakah istri tersebut berdosa karen tidak minta izin dulu pada suami.
Jawaban :
Wa alaikumsalam.
Menurut
kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan pendapat terkuat dikalangan
Hanabilah, wanita yang telah dewasa dan pintar diperbolehkan mengelola
hartanya sendiri meskipun tanpa izin suaminya dan tidak dibatasi jumlah
maksimalnya.
Menurut pendapat kalangan Malikiyyah bila melebihi sepertiga hartanya harus disertai izin suaminya.
Referensi :
979-
قال بن جريج وأخبرني الحسن بن مسلم عن طاوس عن بن عباس رضي الله عنهما قال
ثم شهدت الفطر مع النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان رضي الله
عنهم يصلونها قبل الخطبة ثم يخطب بعد خرج النبي صلى الله عليه وسلم كأني
أنظر إليه حين يجلس بيده ثم أقبل يشقهم حتى جاء النساء معه بلال فقال {يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ} الآية ثم
قال حين فرغ منها آنتن على ذلك قالت امرأة واحدة منهن لم يجبه غيرها نعم
لا يدري حسن من هي قال فتصدقن فبسط بلال ثوبه ثم قال هلم لكن فداء أبي وأمي
فيلقين الفتخ والخواتيم في ثوب بلال قال عبد الرزاق الفتخ الخواتيم العظام
كانت في الجاهلية........وفي هذا الحديث من الفوائد أيضا استحباب وعظ
النساء وتعليمهن أحكام الإسلام وتذكيرهن بما يجب عليهن، ويستحب حثهن على
الصدقة وتخصيصهن بذلك في مجلس منفرد، ومحل ذلك كله إذا أمن الفتنة
والمفسدة. وفيه خروج النساء إلى المصلى كما سيأتي في الباب الذي بعده. وفيه
جواز التفدية بالأب والأم، وملاطفة العامل على الصدقة بمن يدفعها إليه.
واستدل به على جواز صدقة المرأة من مالها من غير توقف على إذن زوجها أو على
مقدار معين من مالها كالثلث خلافا لبعض المالكية
Berkata Ibn
Juraij, berceritera padaku al-Hasan Bin Muslim dari Thowus dari Ibnu
Abbas berkata, "Aku menghadiri shalat Idul Fitri bersama Nabi, Abu
Bakar,Umar, dan Utsman, semuanya mengerjakan shalat sebelum berkhotbah.
Nabi keluar (lalu turun 6/62) seakan-akan aku masih melihat beliau
ketika menyuruh orang banyak duduk dengan mengisyaratkan tangannya.
Kemudian menghadapi mereka dan membelah barisan kaum lelaki (dan ini
dilakukan sehabis berkhotbah). Sehingga, beliau mendatangi kaum wanita
bersama Bilal, lalu beliau mengucapkan, 'Yaa ayyuhan nabiyyu idzaa
jaaakalmu'minaatu yubbaayi'naka ['alaa an laa yusyrikna billaahi syaian
wa laa yasriqna wa laa yazniina wa laa yaqtulna aulaadahunna wa laa
ya'tiina bi buhtaanin yaftariinahu baina aidiihinna wa arjulihinna]'
'Hai Nabi, jika kamu didatangi oleh kaum wanita hendak mengadakan bai'at
atau berjanji setia kepadamu (untuk tidak mempersekutukan sesuatu pun
dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan
membunuh anak-anak mereka, dan tidak membuat-buat tuduhan perzinaan
kepada orang lain dengantuduhan palsu.' Hingga selesai membaca ayat itu
semuanya. Kemudian beliau bersabda setelah membaca ayat tersebut, 'Hai
kaum wanita, apakah Anda sekalian seperti itu?'Seorang wanita di
kalangan mereka menjawab, dan tiada seorang pun dari kaumwanita itu yang
menjawab selainnya. Ia berkata, 'Benar wahai Rasulullah.' Al-Hasan(yang
meriwayatkan hadits itu) tidak mengetahui siapa wanita yang menjawab
itu. Nabibersabda lagi, 'Kalau begitu, maka bersedekahlah kalian!'
Kemudian Bilal membeberkan pakaiannya, lalu dia berkata, 'Marilah, Anda
sekalian adalah penebus ayahku dan ibuku.'Kemudian orang-orang wanita
itu meletakkan cincin besar-besar dari emas(yang biasa dipakai pada
zaman jahiliah dulu), juga meletakkan cincin ukuran biasa di atas
pakaian Bilal itu."
PELAJARAN PENTING DARI HADITS INI
- Anjuran menasehati dan mendidik kaum wanita tentang hukum-hukum Islam serta mengingatkan apa yang diwajibkan pada mereka
- Anjuran
memberi dorongan pada mereka untuk gemar bersedekah serta mengkhusukan
mereka dalam suatu majlis bila memang dirasa aman dari fitnah dan
kerusakan
- Bolehnya mereka keluar ditempat shalat (keterangan lengkapnya akan datang)
- Bolehnya membuat tebusan untuk ayah dan ibu serta berfaedahnya perbuatan baik atas orang yang ia tebusi
- Diperbolehkannya
pemberian sedekah oleh wanita dari harta pribadinya tanpa seizin
suaminya atau dalam batasan pemberian yang ditentukan maksimalnya,
berbeda menurut kalangan Malikiyyah yang membatasi jumlah maksimalnya
asalkan tidak melebihi sepertiga dari harta wanita tersebut.
Fath al-Baari II/468
>>وفي
هذا الحديث جواز صدقة المرأة من مالها بغير اذن زوجها ولا يتوقف ذلك على
ثلث مالها هذا مذهبنا ومذهب الجمهور وقال مالك لا يجوز الزيادة على ثلث
مالها الا برضاء زوجها ودليلنا من الحديث أن النبي صلى الله عليه و سلم لم
يسألهن استأذن أزواجهن في ذلك أم لا وهل هو خارج من الثلث أم لا
Dalam
hadits ini terdapat dalil akan diperbolehkannya pemberian sedekah oleh
wanita dari harta pribadinya tanpa perlu izin suaminya dan dalam batasan
pemberian yang ditentukan maksimalnya sepertiga hartanya, ini madzhab
kami (Syafi’iyyah) serta mayoritas Ulama.Berkata Imam Malik “Tidak
diperbolehkan melebihi sepertiga dari hartanya kecuali atas izin
suaminya, dengan sandaran dalil kami pada hadits nabi saat menanyai kaum
wanita “Atas izin suaminya atau tidak ?”“Melebihi sepertiga hartanya
atau tidak”.
Syarh an-Nawaawy ala Muslim VI/117
وقال
الجمهور (الحنفية والشافعية والحنابلة في الراجح عندهم) (2) :للمرأة
الرشيدة التصرف في مالها كله بالتبرع والمعاوضة، لقوله تعالى: {فإن آنستم
منهم رشداً، فادفعوا إليهم أموالهم} [النساء:6/4] وهو ظاهر في فك الحجر
عنهم، وإطلاقهم في التصرف. وثبت أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: « يا
معشر النساء ! تصدقن، ولو من حُليِّكن...» (3) ،
Berkata Mayoritas
ulama (kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan pendapat terkuat dikalangan
Hanabilah) “Bagi wanita yang dewasa dan pintar berhak mentasharrufkan
(menguasai dan mengelola) semua hartanya baik untuk mengharap ganjaran
dari Allah ataupun untuk berbisnis berdasarkan firman Allah “Kemudian
jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),
maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya” (QS. 4:6) dalil ini
secara dzahirnya melepas pengekangan penguasaan harta atas mereka dan
memberikan hak sepenuhnya pada mereka.
Dan telah terdapati
hadits nabi “Wahai para wanita... !! Bersedekahlah kalian meskipun
dengan perhiasan-perhiasan kalian.........”
Al-Fiqh al-Islaam VI/319
فصل
: وظاهر كلام الخرقي أن للمرأة الرشيدة التصرف في مالها كله بالتبرع
والمعاوضة وهذا إحدى الروايتين عن أحمد وهو مذهب أبي حنيفة و الشافعي و ابن
المنذر وعن أحمد رواية أرخى ليس لها أن تتصرف في مالها بزيادة على الثلث
بغير عوض إلا بإذن زوجها وبه قال مالك
PASAL
Melihat dhahirnya
pernyataan al-Khoroqy diperbolehkan bagi wanita dewasa yang pintar
mengelola seluruh hartanya untuk kebaikan (yang mengharan pahala dari
Allah) dan berbisnis, dan ini adalah salah satu dari dua riwayat dari
Imam Ahmad Bin Hanbal.Demikian pendapat Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan
Ibn al-Mundzir, dipendapat Ahmad Bin hanbal terdapat riwayat lain yakni
tidak diperbolehkan mereka mengelola hartanya melebihi sepertiga dari
hartanya tanpa adanya pengganti kecuali seizin suaminya, dan ini juga
pendapat Imam Malik. Al-Mughni IV/560
Wallaahu A'lamu Bis Showaab
MUSYAWWIRIN :
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
PENELITI :
(1). Ustadz Brojol Gemblung (2). UstadzWesqie (3). Ustadz Rampak Naung (4). Ustadz Mazz Rofii (5). Ustadz Sunde Pati
Editor: Guslik An_Namiri.